Quantum Learning, Salah Satu Model Pembelajaran Terbukti Sangat Berhasil

Bookmark and Share
Penerapan model Quantum Learning ini telah memberikan hasil-hasil sebagai berikut 68% meningkatkan motivasi, 73% meningkatkan nilai, 81% meningkatkan rasa percaya diri, 84% meningkatkan harga diri dan 98% melanjutkan penggunaan keterampilan. (DePorter, 2002). Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Quantum Learning terbukti sangat berhasil dan harus dipertimbangkan sebagai salah satu model pembelajaran yang perlu untuk diterapkan.

Keberhasilan dalam belajar menurut Hakim (2005) dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang bersumber dari dalam individu itu sendiri meliputi faktor fisik (panca indra, kondisi fisik umum) dan faktor psikologis baik kognitif, maupun non-kognitif. Kognitif meliputi kemampuan khusus (bakat) dan kemampuan umum (intelegensi), sedangkan kemampuan non-kognitif, yakni :minat, motivasi, dan variabel-variabel kepribadian. Faktor eksternal yang bersumber dari luar individu meliputi faktor fisik (kondisi tempat belajar, sarana, dan perlengkapan belajar, materi pelajaran, dan kondisi lingkungan belajar), dan faktor sosial (dukungan sosial dan pengaruh budaya). Sedangkan menurut Syah (2004), pencapaian hasil belajar pada umumnya dipengaruhi oleh kecerdasan, kepribadian, motivasi berprestasi, kesehatan jasmani dan rohani, dan kebiasaan belajar.

Salah satu faktor yang juga turut mempengaruhi keberhasilan belajar adalah metode atau strategi belajar yang digunakan oleh individu (Sukadji, 2001). Banyak sekali metode dalam pembelajaran yang diterapkan saat ini, baik oleh individu, maupun oleh lembaga pendidikan. Salah satu metode pembelajaran yang saat ini banyak diterapkan oleh individu dalam proses belajarnya, yaitu metode Quantum Learning. Model pembelajaran ini pertama kali diterapkan di Amerika Serikat, berakar dari upaya Dr.Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria, yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya ”suggestology” atau “suggestopedia”. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif ataupun negatif. Beberapa teknik yang digunakannya untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni pengajaran sugestif (DePorter, 2002).


Metode Quantum Learning merupakan metode yang berusaha untuk mengubah belajar yang berbeda dibandingkan dengan metode belajar pada umumnya. Dalam Quantum Learning diupayakan menyertakan segala kaitan, interaksi, dan perbedaan yang dapat memaksimalkan proses belajar. Quantum Learning berfokus pada proses balejar yang menyenangkan. Dasar berpikir dari Quantum Learning adalah belajar merupakan kegiatan seumur hidup yang dapat dilakukan dengan menyenangkan dan berhasil. Quantum Learning menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses belajar lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan. Metode Quantum Learning berusaha menggabungkan peningkatan multi sensori dan multi kecerdasan dengan otak yang pada akhirnya akan meningkattkan kemampuan siswa untuk berprestasi (DePorter, 2002). 


Manfaat metode Quantum Learning adalah meningkatkan peran sebagai pelajar yang memikul tanggung jawab pada diri sendiri sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dengan belajar sedapat mungkin dari setiap situasi dan memanfatkannya untuk diri sendiri dan orang-orang yang didekatnya. Quantum Learning membawa seseorang menjadi individu yang selalu menggunakan metode “belajar aktif”. Belajar aktif berarti seseorang berperan dan tidak membiarkan dirinya mengikuti apa yang ada. Seorang pelajar aktif akan terbuka terhadap pengalaman dan pelajaran yang ditawarkan oleh kehidupan. Memiliki pemikiran yang terbuka dan menyerap serta mengolah pengetahuan yang dimiliki untuk kemudian dengan penuh semangat mencari lebih banyak pengetahuan lagi. Hal ini memungkinkan seseorang untuk bersikap introspektif dan bertualang di dunia luas. Dasar pemikirannya adalah agar seseorang berani untuk melakukan eksplorasi, mencoba hal-hal yang baru dan cara-cara baru untuk memperoleh pengetahuan. Seperti yang dikatakan oleh Lozanov (dalam DePorter, 2000), proses belajar adalah sesuatu yang kompleks, dimana segala sesuatunya sangat berarti, yaitu setiap kata, pikiran, tindakan, dan sampai sejauh mana seseorang itu dapat mengubah lingkungan, dan rancangan dalam belajar yang ditetapkan setiap individu menentukan hasil belajar yang akan diperoleh individu tersebut. (DePorter, 2002). 


Aspek-aspek dalam model pembelajaran Quantum Learning ini meliputi: Lingkungan belajar, Memiliki sikap positif, Gaya Belajar, Teknik Mencatat, Teknik Menulis, Kekuatan Ingatan, Kekuatan Membaca, dan Berpikir Kreatif (Deporter, 2002). 


Pada awal penerapannya, model pembelajaran ini pertama kali dilakukan pada tahun 1982, yang dikenal dengan nama Supercamp. Dalam program menginap selama dua belas hari ini, siswa-siswa mulai dari usia sembilan hingga dua puluh empat tahun memperoleh kiat-kiat yang membantu mereka dalam mencatat, menghafal dan membaca cepat, menulis, berkreasi, berkomunikasi, dan melakukan kiat-kiat untuk meningkatkan kemampuan mereka menguasai berbagai hal dalam kehidupan. Hasilnya menunjukkan bahwa murid-murid yang mengikuti program tersebut mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri (DePorter, 2002). 


Penerapan model Quantum Learning ini telah memberikan hasil-hasil sebagai berikut 68% meningkatkan motivasi, 73% meningkatkan nilai, 81% meningkatkan rasa percaya diri, 84% meningkatkan harga diri dan 98% melanjutkan penggunaan keterampilan. (DePorter, 2002). Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Quantum Learning terbukti sangat berhasil dan harus dipertimbangkan sebagai salah satu model pembelajaran yang perlu untuk diterapkan. 


Penerapan Quantum Learning di Indonesia, khususnya di kota Makassar, sudah diterapkan oleh salah satu lembaga kursus, yaitu lembaga kursus Britania Makassar. Lembaga ini meskipun masih relatif baru, tetapi sudah cukup maju dan diminati oleh masyarakat. Hal ini dapat kita lihat dari pelaksanaan supercamp yang rata-rata dilaksanakan setiap bulan, bahkan kadang-kadang dilaksanakan 2 (dua) kali dalam sebulan. Pelaksanaan supercamp ini oleh lembaga Britania selalu dilaksanakan pada hari-hari libur para siswa agar tidak mengganggu hari belajar para siswa pada sekolah formal, atau programnya diatur dan dijadwalkan sedemikian rupa agar waktu belajar pada pendidikan formal tidak terganggu (Pattaufi, 2008). 


Hal yang menarik dari temuan DePorter ini, selain metode adalah kepraktisannya. Jika kita membaca secara cermat bukunya “Quantum Learning”, kita akan menemukan beberapa teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah popular dan umum digunakan seperti yang terlihat pada aspek-aspek yang telah dikemukakan di atas. Namun DePorter dengan jeli merevisi dan menambah sana-sini serta merangkaikan dengan pelbagai potensi manusia yang lain, sehingga, selain teknik ini menjadi mudah diterapkan, juga dapat menghasilkan efek yang dahsyat bagi pengembangan potensi diri (Herbowo, 1999). 


Beberapa teknik atau aspek yang dibahas dalam model pembelajaran ini, sebagian besar telah diketahui dan dipelajari oleh mahasiswa Psikologi. Dalam hal ini kebanyakan mahasiswa Psikologi memperolehnya dari mata kuliah Psikologi Pendidikan dan Paedagogi. Bahkan pada mata kuliah Paedagogi, pada salah satu buku teks yang dipergunakan, yaitu “Keberhasilan Belajar di Perguruan Tinggi” telah dipelajari bagaimana mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa Psikologi untuk memahami kerja otak, memupuk harga diri akademik yang positif, peranan minat dalam pendidikan, motivasi, goal setting dan gaya belajar, teknik belajar, mind map, pengenalan diri, dan merancang rencana belajar, yang sebagian besar adalah penerapan dari Quantum Learning. Namun pada kenyataannya, ada mahasiswa yang mengerti konsep quantum learning ini namun tidak diterapkan dalam proses belajarnya, dan ada yang tidak tahu tentang konsep ini namun tanpa disadari telah diterapkan dalam proses belajarnya, dan bahkan ada mahasiswa psikologi yang tidak mengetahui tentang konsep quantum learning ini dan tidak menerapkannya, meskipun di dalam mata kuliah yang mereka terima telah diajarkan tentang aspek-aspek yang termasuk dalam konsep quantum learning.

{ 1 komentar... Views All / Post Comment! }

Poskan Komentar